Jumat, 25 Februari 2011

SURAT IMAM AL-GHAZALI Kepada Salah Seorang Muridnya

Wahai anak! Nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya; karena terasa pahit oleh segala hawa nafsu yang menyukai segala yang terlarang. Terutama dikalangan penuntut ilmu yang membuang waktu dalam mencari kebesaran diri dan kemegahan duniawi. Ia mengira bahwa di dalam ilmu yang tak bersari itulah terkandung keselamatan dan kebahagiaan, dan ia menyangka tak perlu beramal. Inilah kepercayaan filsuf – filsuf.
Ia tidak tahu bahwa ketika telah ada pada seseorang ilmu, maka ada yang memberatkan, seperti disabdakan Rasulullah SAW: "Orang yang berat menanggung siksa di hari kiamat ialah orang yang berilmu namun tidak mendapat manfaat dari ilmunya itu".
Wahai anak! Janganlah engkau hidup dengan kemiskinan amal dan kehilangan kemauan kerja. Yakinlah bahwa ilmu tanpa amal semata-mata tidak akan menyelamatkan orang.
Jika disuatu medan pertempuran ada seorang yang gagah berani dengan persenjataan lengkap dihadapkan dengan seekor singa yang galak, dapatkah senjatanya melindunginya dari bahaya, jika tidak diangkat, dipukulkan dan ditikamkan? Tentu saja tidak akan menolong, kecuali jika diangkat, dipukulkan dan ditikamkan!
Demikian pula, jika seseorang membaca dan mempelajari seratus ribu masalah ilmiah, jika tidak diamalkan maka tidaklah akan mendatangkan faedah.
Wahai anak! berapa malam engkau berjaga guna mengulang - ulang ilmu, membaca buku, dan engkau haramkan tidur atas dirimu. Aku tak tahu, apa yang menjadi pendorongmu. Jika yang menjadi pendorongmu adalah kehendak mencari materi dan kesenangan dunia, atau mengejar pangkat atau mencari kelebihan atas kawan semata, maka malanglah engkau.
Namun jika yang mendorongmu adalah keinginan untuk menghidupkan syariat Rasulullah SAW, dan menyucikan budi pekertimu, dan menundukkan nafsu yang tiada henti mengajak kepada kejahatan, maka mujurlah engkau. Benar sekali kata seorang penyair, 'Biarpun kantuk menyiksa mata, Akan percuma semata-mata. Jika tak karena Allah semata'.
Wahai anak! Hiduplah sebagaimana maumu. Namun Ingat! bahwasannya engkau akan mati. Dan cintalah siapa yang engkau sukai. Namun Ingat! Engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah seperti yang engkau kehendaki. Namun ingat! Engkau akan menerima balasannya nanti masing-masing.

Rabu, 23 Februari 2011

memPERBARUI KOMITMEN DAKWAH!!?

Ditengah-tengah kesibukan berdakwah dan menumpuknya perkerjaan, kadang-kadang para aktivis
dakwah lupa akan hakekat komitmen mereka terhadap dakwah. Kelalaian ini bisa berbentuk seringnya
meninggalkan kewajiban dakwah dan menzalimi diri dengan tidak menyucikan, tidak mendidiknya, tidak
memantaunya, serta tidak mengevaluasinya.
Terkadang juga, erring menyi-nyiakan hak-hak saudara dan dakwahnya. Ia tidak mau mengeluarkan
infak, dan hanya memberikan sisa-sisa waktu untuk berdakwah, serta selalu terlambat menghadiri
pertemuan-pertemuan rutin. Kewajiban dan tugas dakwah dilaksanakan sekedarnya, sesuai dengan
kemauan hawa nafsunya sendiri.
Karena itulah, kita harus bertanya kepada diri kita, “Bagaimana komitmen saya terhadap dakwah?
Apakah cukup hanya mendukung dan membanggakanya? Atau, Apakah cukup hanya dengan
memberikan sebagian harta? Ataukah, kita harus ikut bergerak berputar bersama dakwah?”
Dan masiih banyak lagi pertanyaan yang harus dijawab oleh aktivis dakwah agar ia benar-benar
mengetahui hakikat komitmennya terhadap dakwah.
Bergabung dengan pergerakan dakwah menuntut pelakunya selalu meluruskan dan memperbarui
komitmennya dari waktu ke waktu, hingga ia tidak terasa terbelenggu oleh hawa nafsunya dan agar
selalu ingat bahwa ia terkait erat dengan prinsip-prinsip dan anggaran rumah tangga dalam jama’ah
dakwah. Terlebih, dakwah kita yakni adalah dakwah islamiyah yang bersumber dari Allah dan memiliki
aturan-aturan yang dibuat oleh Yang Maha Kuasa. Karena itulah, dakwah merupakan amanah yang
harus ditunaikan dan ditepati.
Seandainya ada komitmen yang benar terhadap dakwah, niscaya hanya sedikit aktivis dakwah yang
berjatuhan di tengah jalan, dan dakwah akan mampu berjalan merealisasikan tujuan-tujuannya dengan
langkap pasti.
Seandainya ada komitmen yang benar terhadap dakwah, niscaya hati akan menjadi bersih, akal akan
bersatu, dan sedikit orang yang mengedepankan akal dan memaksa pendapatnya.
Seandainya ada komitmen yang benar terhadap dakwah, niscaya akan tersebar sikap toleransi, saling
mencintai, saling menguatkan, dan barisan akan menjadi kuat ibarat bangunan yang kokoh. Sebagian
menguatkan sebagian yang lain.
Seandainya ada komitmen yang benar terhadap dakwah, niscaya para aktivis dakwah akan memiliki sika
yang sama dimana pun posisinyanya, baik di depan maupun dibelakang, menjadi pemimpin yang ditaati
atau menjadi prajurit yang tersembunyi dibelakang.
Seandainya ada komitmen yang benar terhadap dakwah, niscaya para aktivis dakwah akan berlapang
dada dalam menyikapi kekeliruan saudaranya, tidak ada dengki dan permusuhan.
Seandainya ada komitmen yang benar terhadap dakwah, niscaya tidak ada kemalasan dalam
menunaikan kewajiban dakwah. Bahkan, para aktivis akan selalu berlomba-lomba dalam melakukan
kebaikan dan menggapai derajat yang tinggi.
Seandainya ada komitmen yang benar terhadap dakwah, niscaya aka nada perhatian pada waktu. Tidak
ada waktu yang terbuang sia-sia bagi aktivis dakwah, karena ia selalu berada dalam keadaan bermunajat
kepada Rabbnya, atau sedang berjihad di medan dakwah, jika tidak, ia sedang menyerukan kebaikan dan
mencegah kemungkinan. Atau, ia sedang mendidik anak dan istrinya dirumah, atau sedang mengisi
pengajian, dan memberi peringatan kepada orang lain di masjid.
Seandainya ada komitmen yang benar terhadap dakwah, niscaya aka nada perlombaan untuk
menunaikan kewajihan membayar infak dakwah dan tidak akan ditemui keraguan untuk itu.
Semboyannya adalah “apa yang ada ditangan kalian akan musnah, dan apa yang ada di sisi Allah akan
kekal”.
Seandainya ada komitmen yang benar terhadap dakwah, niscaya aka nada sikap selalu mendengar dan
taat. Tidak ada keraguan apalagi berbangga diri dan memaksakan pendapat pribadi.
Seandainya ada komitmen yang benar terhadap dakwah, niscaya aka nada pengorbanan yang besar
untuk dakwah dan memdekatkan diri kepada Allah, bukan pengorbanan untuk pribadi dan hawa nafsu.
Seandainya ada komitmen yang benar terhadap dakwah, niscaya akan ada kepercayaan dari prajurit
terhadap pemimpinnya. Mereka pun akan siap melaksanakan instruksi yang diberikan pemimpin mereka.
Seandainya ada komitmen yang benar terhadap dakwah, niscaya akan menangislah orang-orang yang
tidak bisa melakukan kewajiban secara optimal. Dan, akan bersemangatlah orang-orang yang telah
bersungguh-sungguh untuk meraih pahala yang lebih banyak lagi.
(* dikutip dari buku “memperbarui komitmen dakwah”, Muhammad Abduh, rabbani press.
By : Medi Prasetia

Sabtu, 08 Januari 2011

Diam itu emas..........

Diam itu emas..........

Message: Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu
langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw,
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam.", hadits diriwayatkan oleh Bukhari.

1. Jenis-jenis Diam
Sesungguhnya diam itu sangat bermacam-macam penyebab dan dampaknya. Ada yang dengan diam jadi emas, tapi ada pula dengan diam malah menjadi masalah. Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi pada diri dan lingkungannya.

Berikut ini bisa kita lihat jenis-jenis diam:

a. Diam Bodoh
Yaitu diam karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini bisa karena kekurangan ilmu pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini jauh lebih b aik dan aman daripada memaksakan diri bicara sok tahu.

b. Diam Malas
Diam jenis merupakan keburukan, karena diam pada saat orang memerlukan perkataannya, dia enggan berbicara karena merasa sedang tidak mood, tidak
berselera atau malas.

c. Diam Sombong
Ini pun termasuk diam negatif karena dia bersikap diam berdasarkan anggapan bahwa orang yang diajak bicara tidak selevel dengannya.

d. Diam Khianat
Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk mencelakakan orang lain. Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan adalah diam yang keji.

e. Diam Marah
Diam seperti ini ada baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah jauh lebih terpelihara dari perkataan keji yang akan lebih memperkeruh suasana. Namun, buruknya adalah dia berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk memperlihatkan
kemurkaannya, sehingga boleh jadi diamnya ini juga menambah masalah.

f. Diam Utama (Diam Aktif)
Yang dimaksu d diam keutamaan adalah bersikap diam hasil dari pemikiran dan perenungan niat yangmembuahkan keyakinan bahwa enggan bersikap menahan
diri (diam) maka akan menjadi maslahat lebih besar dibanding dengan berbicara.

2. Keutamaan Diam Aktif

a. Hemat Masalah
Dengan memilih diam aktif, kita akan menghemat kata-kata yang berpeluang menimbulkan masalah.

b. Hemat dari Dosa
Dengan diam aktif maka peluang tergelincir kata menjadi dosapun menipis, terhindar dari kesalahan kata yang menimbulkan kemurkaan Allah.

c. Hati Selalu Terjaga dan Tenang
Dengan diam aktif berarti hati akan terjaga dari riya, ujub, takabbur atau aneka penyakit hati lainnya yang akan mengeraskan dan mematikan hati kita.

d. Lebih Bijak
Dengan diam aktif berarti kita menjadi pendengar dan pemerhati yang baik, diharapkan dalam menghadapi sesuatu persoalan, pemahamannya jauh
lebih mendaam sehingga pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.

e. Hikmah Akan Muncul
Yang tak kalah pentingnya, orang yang mampu menahan diri dengan diam aktif adalah bercahayanya qolbu, memberikan ide dan gagasan yang cemerlang,
hikmah tuntunan dari Allah swtakan menyelimuti hati, lisan, serta sikap dan perilakunya.

f. Lebih Berwibawa
Tanpa disadari, sikap dan penampilan orang yang diam aktif akan menimbulkan wibawa tersendiri. Orang akan menjadi lebih segan untuk mempermainkan
atau meremehkan.

Selain itu, diam aktif merupakan upaya menahan
diri dari beberapa hal, seperti:

1. Diam dari perkataan dusta
2. Diamdari perkataan sia-sia
3. Diam dari komentar spontan dan celetukan
4. Diam dari kata yang berlebihan
5. Diam dari keluh kesah
6. Diam dari niat riya dan ujub
7. Diam dari kata yang menyakiti
8. Diam dari sok tahu dan sok pintar

Mudah-mudahan kita menjadi terbiasa berkata benaratau diam. Semoga pula Allah ridha hingga akhir hayat nanti, saat ajal menjemput, lisan ini diperkenankan untuk mengantar kepergian ruh kita dengan sebaik-baik perkataan yaitu kalimat tauhiid "laa ilaha illallah" puncak perkataan yang menghantarkan ke surga.
Aamiin

by: Medi Prasetia